WISATA KECAMATAN LORE TIMUR

WISATA KECAMATAN LORE TIMUR

Menu

CAGAR BUDAYA MEGALITIK PEKASELE

DESKRIPSI DAN PENGERTIAN CAGAR BUDAYA MEGALITIKUM PEKASELE

   Pekasele adalah salah satu situs megalitikum yang sangat penting dan menarik di kawasan Lembah Napu, Sulawesi Tengah. Situs ini terletak di Desa Tamadue, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, tidak jauh dari pusat Lembah Napu yang terkenal dengan kekayaan peninggalan prasejarahnya.

    Menurut hasil penelitian arkeologi di Sulawesi Tengah, kawasan Pekasele telah ada sejak sekitar 900 tahun SM. Letaknya berada di salah satu perbukitan di Lembah Napu, yang pada masa lampau merupakan kawasan danau besar. Konon, nenek moyang masyarakat setempat dahulu melaksanakan ritual adat untuk mengeringkan danau tersebut. Dalam ritual itu, mereka berjalan kaki mengelilingi lembah sebanyak tujuh kali, mengikuti barisan gunung-gunung yang mengelilinginya. Setelah ritual dilakukan, air danau perlahan mulai surut dan akhirnya mengalir keluar membentuk Sungai Lairian. Ketika danau benar-benar mengering, para warga kemudian bermusyawarah dan menyepakati penamaan wilayah tersebut dengan istilah “Lore”, yang dalam bahasa daerah pekurehua berarti tidak tergenang air. Nama ini menjadi penanda bahwa daerah tersebut dahulu pernah menjadi danau yang kini telah kering.

    Dalam perjalanan sejarahnya, wilayah ini kemudian menjadi pusat pemerintahan tradisional yang dipimpin oleh seorang raja perempuan bernama Raja Pekasele. Dimana arti "Peka" adalah Yang Memimpin; Raja dan "Sele" adalah Perempuan jadi Pekasele adalah Raja Perempuan, sehingga nama ini memiliki nama simbolik yang menggambarkan keseimbangan antara kekuasaan dan kesakralan


KEUNIKAN CAGAR BUDAYA MEGALITIKUM PEKASELE

     Situs Pekasele ini merupakan bukti nyata tentang kemampuan dan kreativitas manusia prasejarah, memberikan wawasan tentang perkembangan peradaban manusia pada masa itu, dan menjadi jendela untuk memahami kehidupan spiritual dan sosial masyarakat ribuan tahun yang lalu. Keunikan Pekasele terletak pada kepemimpinannya yang dijalankan oleh perempuan, berbeda dari kebanyakan kerajaan pada masa itu. Raja Pekasele memiliki wilayah kekuasaan yang mencakup empat belas pemukiman, hasil dari musyawarah bersama pihak Belanda pada masa kolonial.

    Salah satu wilayah yang termasuk dalam kekuasaan Raja Pekasele adalah kawasan yang kini dikenal sebagai objek wisata budaya Pekasele. Sementara itu, daerah Watulumu tidak termasuk dalam wilayah pemukiman yang berada di bawah kekuasaan Raja Pekasele. Selain patung, di kawasan Pekasele juga terdapat batu-batu dengan lubang kecil, yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai “album pencatatan” pada masa lampau. Dalam tradisi masyarakat, ketika diadakan upacara adat yang melibatkan seluruh desa, lubang pada batu itu dibuat lebih besar sebagai simbol kegiatan bersama.

X